SELAYANG PANDANG GPdI

Sejarah perkembangan Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI), membawa kita kembali ke bulan Maret 1921, ketika dua orang Misionaris Pantekosta pertama di Indonesia yaitu Groesbeek dan van Klaveren, yang diutus Tuhan dari Gereja “Bethel Temple” Seattle, Washinton, Amerika Serikat. Pada tahun itu, kabar injil sepenuh, berita Pantekosta tiba di Indonesia di mulai di Denpasar, kemudian ke Surabaya dan Cepu, dari sini berkembang ke seluruh pelosok tanah air Indonesia.

Setelah hampir dua tahun, sekitar 20 bulan menjalankan visi misi dari Tuhan Yesus untuk memberitakan Injil Kerajaan sorga, Injil sepenuh, berita Pantekosta, berita keselamatan dan kesembuhan di dalam Kristus, pemerintah Belanda dengan alasan ada dari berbagai pihak yang menentang dan setelah diamati bahwa Misonaris tidak mempunyai penghasilan yang tetap, mereka diminta oleh pihak Pemerintah Belanda agar meninggalkan pulau Bali, dan akhirnya mereka pindah ke Surabaya.

Pemberitaan pantekosta pada awalnya, menekankan pemberitaan yang berpusat kepada Yesus Kristus, yaitu tentang Yesus adalah Tuhan dan Juruslamat, sebagai penyembuh ajaib, sebagai pembaptis dengan Roh Kudus dan sebagai Raja diatas segala raja yang akan kembali. Berita Misionaris Groesbeek di Cepu, membawa pengertian baru, menyentuh hati, kemudian beberapa orang yang mendengar mengambil keputusan untuk menerima dan percaya kepada Yesus. Pada tanggal 30 Maret 1923, tiga belas orang mengambil keputusan untuk percaya dan bertobat dan menyerahkan diri  kepada Tuhan dengan mengikuti baptisan air secara diselamkan, sebagaimana tertulis di Alkitab.

Pada tahun 1930-an dan 1940-an, pelayanan Gereja Pantekosta di Indonesia telah meluas dan hadir di berbagai kota dan desa di seluruh Nusantara. Dan di tahun-tahun berikutnya lebih banyak lagi yang terpanggil menjadi pemberita injil, memasuki pendidikan Alkitab, dan setelah itu pergi ke berbagai daerah, sesuai penggilan Tuhan kepadanya untuk bekerja di ladang misi.

Pada tangal 31 Maret 1923, pelayanan Jemaat Pantekosta mengajukan permohonan pengakuan pemerintah kepada Gubernur Hindia Belanda dan diakui sebagai vereeneging (perkumpulan resmi) tanggal 4 juni 1924, dengan nama “De Pinkstergemeente in  Nederlands Indie”. Kemudian “Perkumpulan Pantekosta” ini mengalami perkembangan pesat oleh karya kuat Roh Kudus dalam pelayanan pemberitaan Injil dan kesaksian pribadi, melahirkan jemaat-jemaat baru di berbagai daerah, gedung-gedung gereja dibangun dan dengan itu statusnta ditingkatkan menjadi badan hukum gereja (kerkgenootschap) dengan nama “De Pinksterkerk in  

Nederlandsch  Indie”, berdasarkan Staatsblad (Lembaran Negara) nomor  

156 dan nomor 532 tahun 1927 dan kemudian pada tanggal 4 Juni 1937 dikukuhkan menjadi Rechtpersoon (Badan Hukum) oleh Beslit Pemerintah dengan nomor 33 Staatsblad nomor 368 dengan nama  “De Pinksterkerk in  Nederlandsch Indie”

Pada tahun 1942, nama gereja dalam bahasa Belanda kemudian disesuaikan menurut keadaan yang terjadi pada waktu itu menjadi Gereja Pantekosta di Indonesia dan kemudian Pemerintah Indonesia menyatakan melalui surat Departemen Agama RI No.. E/VII/156/928/73 tanggal  2 Oktober 1973, Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI) dinyatakan adalah kelangsungan dari Badan Hukum kerkgenootschap “De Pinksterkerk in  Nederlandsch Indie”. GPdI terus mengalami perkembangan ditandai dengan hadirnya gereja-gereja di berbagai daerah di Indonesia diantaranya di Jawa, Menado, Sulawesi, Maluku, Sematera, Kalimantan, NTT, Bali, Papua dan di berbagai pulau-pulau sampai menca negara.

(materi diambil dari buku API PANTEKOSTA MENYALA, SEJARAH GPdI JAKARTA 80 TAHUN )

PROFIL GPdI JEMAAT BARITO, Jakarta Selatan

Menilik pada sejarah GPdI jemaat Barito, awalnya di tahun 1954 di wilayah Kebayoran Baru ini terdapat dua pelayanan yakni di jalan Panglima Polim di rumah keluarga Kalalo yang ditangani Pdt. HN Runhkat dan jalan Lamandau adalah cabang pelayanan GPdI Narada, dibawah naungan Pdt. Rombah. Pada tahun 1956 kedua pelayanan ini dijadikan satu dikarenakan ada peraturan di GPdI bahwa di satu pusat latihan Grafika Indonesia sekarang disebut Melawai Plaza. Ditempat ini pelayanan ditangani oleh Pdt. Muntu bergantian dengan Pdt. Grafstal dan selanjutnya diserahkan kepada Pdt. Kaware. Tak lama berselang, pelayanan ini diserahkan kepada Pdt. Merfol.

Waktu berjalan terus, dinamika pelayanan terus bergerak cepat. Tahun 1962 beralih pelayanan ini ditangani oleh Majelis Daerahdibawah kepemimpinan Pdt. H Kristanto.  Tahun 1963 kembali pelayanan berpindah tangan kepada Pdt. Tumatala dan Pdt. Yau Ka In. Selanjutnya tahun 1967 pelayanan ini ditangani oleh Pdt. Marey dan tahun 1971 kembali pelayanan ini ditangani oleh Majelis Daerah dan diserahkan kepada Pdt. Tumbelaka. Baru tahun 1972 oleh kepercayaan Majelis Daerah, pelayanan ini diserahkan kepada Pdt. E Kuniawan.

Ditangan Pdt.Kurniawan ini pelayanan oleh kemurahan Tuhan semakin berkembangKurniawan ini pelayanan oleh kemurahan Tuhan semakin berkembangKurniawan ini pelayanan oleh kemurahan Tuhan semakin berkembang. Tahun 1973 ada seorang anak Tuhan memberikan lahan seluas 375m2 di jalan Damai dan tahun 1974 dilokasi ini berdiri sebuah gereja. Namun ditempat ini tidak bertahan lama, karena lokasi tidak sesuai plan tata kota dan ibadah kembali berpindah ke jalan Gotong Royong hingga tahun 1979. Berekat doa dan ketekunan dari umat Tuhan dan Gembala Sidang, Tuhan memberikan lahan strategis di jalan Barito no. 57 Kebayoran Baru. Dengan cepat lahan ini dibeli jemaat. Tahun 1981 pembangunan dimulai. Selama pembangunan ibadah dipindahkan ke gelanggang remaja Bulungan Jakarta Selatan. Setelah pembangunan berjalan 50% maka ibadah dikembalikan lagi di gereja yang sedang dibangun. Tahun 1984 berkat kebaikan dan campur tangan Tuhan yang Maha Kuasa dan setelah melewati pergumulan dan kerja keras serta pengorbanan yang besar maka gereja selesai dibangun yang tampat seperti yang kita lihat saat ini.

Sepeninggal Pdt. E Kurniawan,  pelayanan dan penggembalaan dilanjutkan oleh ibu Pdt Lientje WM Kurniawan istri almarhum Pdt E Kurniawan dan dibantu wakil gembala Pdt. Albert Natan Kurniawan bersama istrinya Pdm Dertina Dessy Kurniawan. Tak lama kemudian pelayanan dan penggembalaan ini diserahkan penuh kepada anaknya yaitu Pdt. Albert Natan Kurniawan dan istrinya Pdm. Dertina Dessy Kurniawan, yang telah dilantik pada tanggal 12 Februari 2017.

Dalam kesibukan pelayanan dan penggembalaannya, beliau dibantu oleh  tua-tua sidang yang melayani di Komisi Pelayanan Jemaat (Majelis) dan para Koordinator untuk melayani kegiatan wadah-wadah dan jemaat. Sedangkan untuk urusan diluar pelayan mimbar, beliau dibantu oleh bagian Kesekretariatan dan Bendahara umum gereja. Disamping beliau sebagai gembala sidang di GPdI jemaat Barito, Kebayoran Baru, beliau juga sebagai gembala sidang GPdI jemaat Pemandangan, Jakarta Utara.

(materi diambil dari majalah obor Pantekosta, vol.03 2015)