Ibadah yg Sejati

UNTUK KALANGAN SENDIRI No. 041- 24 November 2019
WARTA JEMAAT
GEREJA PANTEKOSTA DI INDONESIA JEMAAT BARITO
lbadah yang Sejati
Semua orang melaku kan ibadah, tetapi bedanya adalah apakah ibadah yang kita lakukan adalah ibadah yang berkenan kepada Tuhan ?
Semua orang yang beribadah diukur berdasarkan ukuran Tuhan (Wahyu 11:1). Segala persembahan syukur yang kita bawa kepada Tuhan akan diukur / ditimbang. Jangan sampai ibadah kita ditimbang dan didapati terlalu ringan. Standard kita beribadah harus lebih dari standard dunia.
Ibadah yang sejati adalah kita membawa seluruh kehidupan kita kepada Tuhan sehingga adaefeknya yaitu ada pembaharuan budi sehingga kita dapat membedakan mana kehendak Allah, apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna (Roma 12: 1,2).
Bangsa Israel lama hidup dalam pembuangan di Mesir, Tuhan melepaskan mereka dari Mesir supaya mereka dapat beribadah kepadaNya (Keluaran 4: 22-23 a). Pada saat kita ditebus, tujuannya supaya kita dapat beribadah kepada Tuhan. Bangsa Israel setelah keluar dari Mesir, di tengah perjalnan mereka menuju tanah perjanjian, mereka mengeluh dan kehilangan focus untuk beribadah kepada Tuhan.
Ibadah artinya datang membawa persembahan. Untuk dapat kita beribadah kepada Tuhan, hal-hal berikut yang hanus kita lakukan: 1. Kita harus keluar dari Mesir. Mesir artinya perbuatan-perbuatan daging. Kita wajb mengikuti setiap Fiman Tuhan. Kita tidak boleh melekat dengan dunia, kita harus melepaskan setiap keterikatan-keterikatan kita. Selama kita masih melekat dengan perbuatan-perbuatan daging, ibadah kita tidak akan berkenan bagi Tuhan. Perbuatan-perbuatan daging antara lain percabulan, kecemaran, hawa nafsu, perselishan, irihati, dsb (Galatia 5: 19-21). Ketika kita mengalami perjumpaan dengan Tuhan, maka akan ada perubahan budi (Roma 12:1-2). Ibadah yang kita lakukan haruslah ibadah yang memuliakan Tuhan, kita memberikan pujian dan penyembahan kepada Tuhan yang terbaik dari hati kita, maka Tuhan akan melakukan hal-hal yang ajaib bagi kita ( Yesaya 29: 13).
2. Dalam ibadah harus ada korban yang kita berikan.
Korban itu tidak enak/ sakit, ada harga yang harus kita bayar. Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran (Yohanes 4:24). Kita harus dipimpin oleh Roh, bukan dengan daging (Galatia 5: 16,17). Mari bawa persembahan yang terbaik bagi TUhan. Dalam Maleakhi 3: 1-3 dikatakan bahwa la akan memumikan dan mentahirkan
kita seperti emas dan perak, supaya kita menjadi orang-orang yang mempersembahkan korban yang benar kepada TUHAN. Seorang pemungut cukai datang dengan penuh kerendahan hati, sehingga Tuhan berkenan (Lukas 18: 9-14). Bawa yang terbaik dengan sikat hati yang benar, maka ibadah kita akan menjadi ibadah yang sejati.
3. Yesus yang menjadi utama ( Jesus is the centre) Dalam ibadah kita, yang diajerkan haruslah perkataan Tuhan kita Yesus Kristus saja (I Timotius 6:3, Kolose 2:23). Di dalam ibadah fokusnya hanya perkataan Yesus, bukan hal yang lain.
Marilah kita beribadah kepada Allah menurut cara yang berkenan kepada-Nya dengan hormat dan takut (Ibrani 12: 28). Untuk kita dapat beribadah kepada Tuhan, kita harus melepaskan diri kita dari keterikatan-keterikatan dunia, membawa korban yang terbaik bagi Tuhan dan Yesus menjadi yang utama dalam ibadah kita. Itulah ibadah yang sejati.
Ringkasan Khotbah Ibu Pdt. Dessy Kurniawan-Minggu, 10 Oktober 2019

Leave a Reply